Jumaat, 1 Julai 2011

WILAYAH KERINCI dan ADIMITRASI NYA.

Wilayah Kabupaten Kerinci terletak dibagian barat Pulau Sumatera tepatnya diantara 01o41' sampai 02 o26' lintang selatan dan 101 o08' sampai 101 o40' bujur timur. Kabupaten ini berjarak sekitar 418 km dari Kota Jambi, dengan batas-batas sebagai berikut :
  • Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Solok Selatan Provinsi Sumatera Barat.
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Merangin.
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bungo dan Kabupaten Merangin.
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Bengkulu Utara Provinsi Bengkulu dan Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat.
Luas Wilayah
Sejak awal tahun 2009 Kabupaten Kerinci dimekarkan menjadi dua wilayah administratif yang terpisah dengan berdirinya Kota Sungai Penuh. Setelah pemekaran, luas wilayah Kabupaten Kerinci berkurang menjadi 380.850 Ha menempati urutan ketiga tersempit diantara Kabupaten/Kota yang ada di Propinsi Jambi atau seluas  7,13 persen dari total wilayah Propinsi Jambi. Dari keseluruhan luas wilayah tersebut sekitar 50,37 persen telah diklaim oleh pemerintah sebagai bagian areal Taman Nasional Kerinci Seblat. Areal yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai penggunaan seperti kawasan budidaya hanya tersisa sekitar 49,63 persen atau 3,59 persen dari keseluruhan luas wilayah Propinsi Jambi. Dari 189.028 Ha areal yang dapat dimanfaatkan, seluas 41.620 Ha atau 22,12 persen merupakan kawasan non pertanian dan hanya 147.408 Ha yang dapat dimanfaatkan sebagai lahan budidaya pertanian.

Peta Administrasi Kabupaten Kerinci
Tabel Pembagian Wilayah Administrasi Kabupaten Kerinci, Tahun 2009
No.
Kecamatan
Desa/
Kelrh
Luas
(KM2)
Jumlah
Penduduk
Kepadatan
per KM2
1
Kayu Aro
29
328,05
35.986
109,70
2
Gunung Tujuh
11
162,50
11.824
72,76
3
Gunung Kerinci
10
350,00
11.525
32,93
4
Siulak
27
590,20
30.234
51,23
5
Air Hangat
22
216,75
21.284
98,20
6
Air Hangat Timur
16
160,00
18.473
115,46
7
Depati VII
14
25,80
14.135
547,87
8
Sitinjau Laut
15
58,25
14.043
241,08
9
Danau Kerinci
15
298,47
16.085
53,89
10
Keliling Danau
20
304,39
22.160
72,80
11
Batang Merangin
14
567,32
22.725
40,06
12
Gunung Raya
16
746,77
15.169
20,31
Jumlah Total
209
3808,50
233.643
61,35
Sumber : BPS Kab Kerinci

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi merefleksikan peningkatan produksi seluruh barang-barang dan jasa-jasa dalam suatu perekonomian. Pada tingkat perekonomian wilayah atau regional, nilai produksi keseluruhan barang-barang dan jasa-jasa tersebut dinyatakan sebagai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Nilai PDRB dapat dihitung berdasarkan harga yang berlaku pada setiap saat barang-barang dan jasa-jasa diproduksi atau dihitung berdasarkan harga yang berlaku pada suatu tahun tertentu sebagai tahun dasar. Perhitungan pertama menghasilkan nilai PDRB nominal atau PDRB berdasarkan harga berlaku, sedangkan perhitungan kedua menghasilkan nilai PDRB rill atau PDRB berdasarkan harga konstan. Nilai PDRB rill menghilangkan efek kenaikan harga sehingga angkanya benar-benar mencerminkan kenaikan produksi seluruh barang-barang dan jasa-jasa yang tingkat kenaikannya disebut sebagai laju pertumbuhan ekonomi daerah.
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kerinci mencapai 5,01 persen per tahun selama periode 2000-2008 yang ditunjukkan oleh kenaikan PDRB rill dari Rp 677.081,23 juta pada tahun 2000 menjadi Rp 1.000.752,44 juta pada tahun 2008. Bila disimak perkembangannya per tahun, laju pertumbuhan ekonomi meningkat secara konsisten selama periode 2000-2007 kemudian melambat pada tahun 2008 bersamaan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi dan perekonomian nasional sebagai imbas dari krisis keuangan global. Meski demikian penurunannya relatif sangat kecil yang mencerminkan bahwa fondasi ekonomi Kabupaten Kerinci sesunguhnya masih cukup kuat.

Bila dilihat lebih jauh pola pertumbuhannya secara sektoral, peningkatan tertinggi terjadi pada sektor bangunan dan sektor listrik dan air bersih. Peningkatan nilai produksi rill sektor pertanian yang menjadi lapangan usaha sebagian besar penduduk Kabupaten Kerinci berada pada posisi ketiga. Sektor pertanian berperan sebagai pensuplai berbagai produk bahan makanan baik nabati maupun hewani untuk kebutuhan rumah tangga dan bahan baku industri. Sebagai kebutuhan pokok, permintaan komoditas bahan makanan bersifat relatif inelastis, artinya pengaruh harga dan pendapatan konsumen relatif kecil bila dibandingkan dengan pengaruhnya terhadap permintaan produk industri. Produk-produk pertanian yang berasal dari Kabupten Kerinci di suplai ke berbagai daerah di Sumatera dan Pulau Jawa bahkan ekspor ke negara tetangga. Faktor inilah salah satu yang menjadi keunggulan Kabupaten Kerinci sehinga daya tahannya relatif cukup tinggi terhadap guncangan eksternal.
Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Kerinci
Menurut Lapangan Usaha Tahun 2001-2008 (dalam %)
Lapangan Usaha
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
Rata2
Pertanian
3,91
4,48
4,10
4,72
5,24
5,13
6,31
6,25
5,02
Pertambangan
3,06
3,61
3,72
3,78
1,89
0,72
3,49
4,17
3,05
Industri Pengolahan
2,13
2,32
2,22
3,03
3,84
6,52
5,26
5,62
3,87
Listrik & Air Bersih
2,43
11,39
21,44
13,04
5,20
7,41
2,99
3,38
8,41
Bangunan
3,77
3,79
22,34
14,01
13,37
9,58
6,83
6,78
10,06
Perdagangan
3,45
3,84
3,91
3,37
5,45
6,03
5,76
5,73
4,69
Pengktn & Komks
2,16
5,70
5,74
6,44
3,85
5,66
4,82
4,92
4,91
Keuangan
2,41
2,48
1,84
2,63
4,12
3,17
2,91
3,07
2,83
Jasa-jasa
3,93
4,46
5,68
5,46
2,72
4,46
4,34
4,23
4,41
PDRB
3,71
4,40
4,79
5,00
5,08
5,31
5,89
5,86
5,01
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kerinci, 2009
Sektor lain yang mengalami peningkatan nilai tambah cukup tinggi adalah pengangkutan dan komunikasi serta sektor perdagangan. Sektor pertama merupakan penyedia jasa infrastruktur pengangkutan dan komunikasi. Peningkatan nilai tambah yang cukup tinggi pada sektor ini bersumber dari peningkatan nilai tambah sub sektor komunikasi sebesar 5,86 persen per tahun, sementara peningkatan nilai tambah sub sektor pengangkutan tercatat sebesar 4,88 persen. Yang cukup menarik adalah, peningkatan margin jasa transportasi dan komunikasi terjadi dalam kondisi infrastruktur transportasi yang kurang memadai. Fakta ini dapat ditafsirkan sebagai pencerminan dari rendahnya efisiensi dalam kegiatan pengangkutan dan komunikasi.
Peningkatan nilai tambah sektor pengangkutan dan komunikasi diiringi oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran pada posisi berikutnya. Aktivitas sub sektor perdagangan terkait langsung dengan jasa yang dihasilkan sektor pengangkutan dan komunikasi. Sektor perdagangan berperan sebagai media yang mempertemukan produsen dan konsumen yang difasilitasi oleh sektor pengangkutan dan komunikasi. Peningkatan nilai tambah sub sektor perdagangan besar dan eceran yang mencapai 4,77 persen per tahun merefleksikan tingginya margin perdagangan yang diperoleh pelaku aktivitas ekonomi sektor ini. Peningkatan margin yang tinggi pada sektor pengangkutan dan komunikasi dan sektor perdagangan akan berimplikasi pada mengecilnya proporsi peningkatan nilai tambah yang diperoleh produsen sehingga aktivitas ekonomi secara keseluruhan akan menjadi kurang efisien.
Nilai PDRB Berdasarkan Harga Konstan Tahun 2000
Menurut Lapangan Usaha, Tahun 2000, 2005 dan 2008
(dalam Juta Rupiah)
Lapangan Usaha
2000
2005
2008
Pertanian
459.089,17
571.821,44
679.049,57
Pertambangan dan Penggalian
3.512,14
4.113,04
4.465,99
Industri Pengolahan
20.565,35
23.499,75
27.827,59
Listrik dan Air Bersih
3.653,78
6.020,22
6.885,57
Bangunan
16.188,42
27.570,92
34.464,95
Perdagangan, Hotel & Restoran
60.359,94
73.439,33
87.067,66
Pengangkutan dan Komunikasi
28.131,69
35.506,07
41.253,36
Keuangan
6.728,50
7.684,54
8.408,70
Jasa-jasa
78.852,25
97.996,65
111.329,06
PDRB
677.081,23
847.651,97
1.000.752,4
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kerinci, 2009

Sektor keuangan tercatat sebagai sektor yang peningkatan nilai tambah atau pertumbuhannya paling rendah. Sektor keuangan merupakan urat nadi bagi perkembanan berbagai aktivitas ekonomi sektor rill. Laju pertumbuhan yang relatif rendah pada sektor ini dapat dimaknai sebagai refleksi dari lambannya perkembangan kegiatan pembiayaan aktivitas ekonomi di Kabupaten Kerinci. Kondisi ini terkait erat dengan terbatasnya aktivitas industri pengolahan, padahal aktivitas sektor ini memiliki mata rantai aktivitas lebih panjang yang menciptakan keterkaitan langsung atau tidak langsung ke aktivitas ekonomi dibagian hulu dan aktivitas industri lanjutan dibagian hilir. Hingga saat ini Kabupaten Kerinci masih berperan sebagai pemasok bahan mentah atau bahan baku ke daerah lain atau luar negeri terutama produk tanaman bahan makanan dan perkebunan. Pengolahan produk-produk lokal masih relatif terbatas pada industri rumah tangga dan industri kecil yang menghasilkan makanan olahan. Kondisi ini terlihat dari laju pertumbuhan sektor industri yang relatif rendah menempati posisi terendah ketiga setelah sektor keuangan dan sektor pertambangan dan pengalian. Tingkat industrialisasi yang masih sangat rendah membatasi aktivitas yang dapat dibiayai perbankan secara lebih luas. Namun dalam tiga tahun terakhir telah terjadi peningkatan laju pertumbuhan sektor industri pengolahan secara signifikan dibanding periode tahun 2000-2005. Sementara itu, aktivitas sektor pertambangan dan penggalian di Kabupaten Kerinci masih sangat terbatas pada aktivitas sub sektor penggalian khususnya bahan galian golongan C.

Struktur Perekonomian Daerah
Pola pertumbuhan ekonomi seperti dikemukakan di atas berpengaruh langsung terhadap perubahan struktur ekonomi Kabupaten Kerinci. Pertumbuhan sektor pertanian yang lebih tinggi dibanding sektor industri menyebabkan pangsanya tidak mengalami perubahan yang berarti bahkan meningkat pada tahun 2008, sementara pangsa sektor industri pengolahan menurun dari posisinya pada tahun 2000. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pola perubahan struktur ekonomi Kabupaten Kerinci tidak berlangsung seperti lazimnya yang terjadi pada perekonomian wilayah maju yaitu bergesernya aktivitas ekonomi dari pertanian ke industri dan jasa-jasa.
Pada kasus perekonomian Kabupaten Kerinci, dominasi sektor pertanian tergolong sangat tinggi, hampir mencapai 70 persen terhadap PDRB. Ini berarti bahwa pangsa sektor di luar pertanian hanya sekitar 30 persen lebih. Bila diamati lebih jauh, terdapat dua sub sektor yang menyumbang paling besar terhadap PDRB sektor pertanian yaitu sub sektor tanaman bahan makan dan perkebunan. Kedua sub sektor ini merupakan lapangan usaha utama yang menjadi sumber penghidupan masyarakat Kabupaten Kerinci. Akan tetapi Sebagian besar dari komoditas-komoditas pertanian tersebut belum mengalami prosesing lebih lanjut dalam aktivitas industri manufaktur.
Struktur PDRB Menurut Lapangan Usaha,
Tahun 2000, 2005 dan 2008 (dalam %)
Lapangan Usaha
2000
2005
2008
Pertanian :
67,80
67,46
67,85
- Tananaman Bahan Makanan
32,55
34,11
34,35
- Tananaman Perkebunan
29,46
27,62
27,78
Peternakan dan Hasil-hasilnya
4,43
4,45
4,55
Kehutanan
0,08
0,06
0,04
Perikanan
1,29
1,23
1,14
Pertambangan dan Penggalian
0,52
0,49
0,45
Industri Pengolahan
3,04
2,77
2,78
Listrik dan Air Bersih
0,54
0,71
0,69
Perdagangan, Hotel dan Restoran
8,91
8,66
8,70
Pengangkutan dan Komunikasi
4,15
4,19
4,12
Keuangan, Persewaan dan Jasa Pershn
0,99
0,91
0,84
Jasa-jasa
11,65
11,56
11,12
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kerinci, 2009
Penyumbang terbesar kedua adalah sektor jasa-jasa terutama sub sektor jasa pemerintahan dan sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan kontribusi terbesar berasal dari sub sektor perdagangan. Fakta ini menunjukkan terbatasnya lapangan usaha yang menjadi penopang hidup masyarakat dengan aktivitas utama tanaman bahan makanan dan perkebunan. Aktivitas perdagangan yang umumnya berupa perdagangan eceran sebagian besar juga memperdagangkan komoditas pertanian disamping komoditas lainnya yang diimpor dari daerah lain atau luar negeri, termasuk diantaranya produk pangan olahan. Berdasarkan fakta ini pengembangan aktivitas ekonomi di luar sektor pertanian khususnya aktivitas industri harus dikaitkan langsung dengan aktivitas pertanian terutama tanaman bahan makanan dan perkebunan disamping peternakan dan perikanan. Mengingat sempitnya pasar lokal, pengembangan industri pengolahan pangan semestinya berorientasi ke luar yaitu pasar di daerah lain atau luar negeri. Melalui pengembangan industri berbasis pertanian beskala kecil dengan melibatkan lebih banyak masyarakat akan mampu menciptakan diversifikasi aktivitas ekonomi dan sumber penghidupan masyarakat perdesaan.

Tingkat Pendapatan Masyarakat
Tingkat pendapatan masih menjadi indikator utama tingkat kesejahteraan masyarakat, disamping berbagai indikator sosial ekonomi lainnya. Perkembangan tingkat pendapatan masyarakat dapat dilihat dari tingkat pendapatan perkapita atau pendapatan rata-rata per penduduk. Peningkatan nilai PDRB nominal yang mencapai 16,94 persen per tahun selama periode 2000-2008 meningkatkan secara langsung pendapatan per kapita nominal sebesar 16,37 persen per tahun. Apabila efek kenaikan tingkat harga dihilangkan, peningkatan laju pertumbuhan PDRB rill sebesar 5,01 persen juga meningkatkan secara langsung pendapatan perkapita rill masyarakat sebesar 4,25 persen per tahun pada periode yang sama.

Bila diamati pola perubahannya, peningkatan pendapatan per kapita nominal ternyata lebih berfluktuasi mengikuti perubahan tingkat harga umum atau inflasi, tetapi laju kenaikan pendapatan per kapita rill meningkat secara konsisten hingga mencapai 5,90 persen pada tahun 2008 dari 3,12 persen pada tahun 2001. Peningkatan pendapatan per kapita rill menunjukkan dua hal yaitu: (1) peningkatan produksi barang-barang dan jasa-jasa yang melebihi kenaikan tingkat harga umum dan (2) peningkatan pendapatan rill yang melebihi kenaikan jumlah penduduk. Kabupaten Kerinci merupakan daerah yang berswasembada pangan sehingga potensi gejolak kenaikan tingkat harga umum yang bersumber dari volatilitas harga komoditas pangan relatif kecil. Fakta menunjukkan tingkat harga komoditas bahan makanan di Kabupaten Kerinci relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan tingkat harganya di daerah lain khususnya dalam kawasan Provinsi Jambi.
Pendapatan per Kapita Masyarakat
Berdasarkan Harga Berlaku dan Harga Konstan Tahun 2000,
Tahun 2000-2008
Tahun
Harga Berlaku
Harga Konstan
Pendapatan
(Rp)
Perubahan
(%)
Pendapatan
(Rp)
Perubahan
(%)
2000
2.126.844,48
-
2.205.892,51
-
2001
2.416.019,30
13,60
2.274.792,87
3,12
2002
2.971.218,53
22,98
2.362.060,67
3,84
2003
3.666.536,86
23,40
2.443.215,49
3,44
2004
4.174.888,15
13,86
2.540.353,60
3,98
2005
4.928.969,44
18,06
2.652.728,06
4,42
2006
5.604.650,23
13,71
2.770.952,64
4,46
2007
6.350.944,99
13,32
2.906.155,84
4,88
2008
7.296.740,96
14,89
3.077.525,48
5,90
Rerata
-
16,37
-
4,25
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kerinci, 2009
Peningkatan pendapatan per kapita rill menunjukkan bahwa kesejahteraan masyarakat telah mengalami perbaikan selama delapan tahun terakhir, namun bila dilihat nilai absolutnya sebesar Rp 3.077.525,48 pada tahun 2008, angkanya masih tergolong rendah. Secara keseluruhan PDRB per kapita Provinsi Jambi mencapai Rp 5.196.810 pada tahun 2007, sementara PDRB per kapita Kabupaten Kerinci hanya sebesar Rp 3.202.469 pada tahun 2008. Ini berarti bahwa taraf hidup masyarakat Kerinci masih berada di bawah rata-rata taraf hidup masyarakat Provinsi Jambi. Kemampuan daya beli rill masyarakat hanya sebesar Rp 256.460 per orang per bulan. Dengan anggapan satu keluarga beranggotakan 4 orang, berarti penghasilan rill rata-rata rumah tangga per bulan adalah sekitar Rp 1.024.841. Jika digunakan nilai pendapatan nominal, dengan cara yang sama diperoleh pendapatan rumah tanga perbulan sebesar Rp 2.432.247. Masih rendahnya taraf hidup masyarakat terkait erat dengan ketergantungan sumber penghidupan pada sektor pertanian tanpa diikuti oleh pengembangan industri pengolahannya sehingga nilai tambah yang diperoleh masih relatif kecil. Beranjak dari fakta ini, upaya mendorong peningkatan pendapatan masyarakat yang sebagian besar hidup dari sektor pertanian harus berawal dari peningkatan nilai tambah berbagai produk pertanian.
Investasi Dunia Usaha
Potensi utama yang sangat mendukung perkembangan dunia usaha dan kegiatan investasi di Kabupaten Kerinci adalah lahan subur dengan produksi berbagai jenis komoditas pertanian dan perkebunan, ketersediaan bahan pakan bagi pengembangan peternakan, sumber daya air yang melimpah untuk usaha perikanan darat, dan kondisi alam dan sosial budaya masyarakat yang potensial bagi pengembangan kegiatan pariwisata seperti telah digambarkan sebelumnya. Pengembangan potensi tersebut didukung oleh ketersediaan tenaga kerja dengan tingkat pendidikan cukup tinggi yaitu berpendidikan SLTA ke atas. Pengembangan potensi tersebut akan memberikan peluang yang semakin besar bagi kegiatan investasi dan berbagai aktivitas dunia usaha bila dilengkapi dengan pembangunan infrastruktur transportasi, penyediaan energi listrik dan jaringan telekomunikasi secara lebih memadai.
Potensi peningkatan berbagai produk pertanian tanaman bahan makanan, perkebunan, peternakan dan perikanan memberikan peluang yang besar bagi kegiatan investasi baik kegiatan budidaya di bagian hulu maupun pengembangan industri pengolahan di bagian hilir khususnya industri pengolahan pangan. Keberadaan potensi sumber daya alam lainnya juga memberikan peluang investasi dibidang pertambangan dan penggalian serta khususnya pengolahan bahan galian golongan C.
Selain dukungan potensi sumberdaya alam dan infrastruktur fisik, kegiatan investasi juga membutuhkan dukungan iklim administrasi pemerintahan yang pro dunia usaha. Perizinan dibidang dunia usaha yang diterbitkan pemerintah daerah meliputi izin prinsip, izin lokasi, izin gangguan (HO), IMB, izin trayek angkutan pedesaan, izin usaha, izin reklame, izin usaha restoran, izin rumah makan, izin usaha hotel, izin usaha restouran/rumah makan dan izin usaha pertambangan bahan galian golongan C. Faktor sangat penting yang harus dilakukan adalah menciptakan efisensi dalam bidang perizinan dengan tetap selektif terhadap penilaian calon investor.

sumber :
http://www.kerincikab.go.id/info/Pertumbuhan_Ekonomi


0 komentar:


Poskan Komentar

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Nota: Hanya ahli blog ini sahaja yang boleh mencatat ulasan.